Saat ditanya wartawan, adakah sesuatu cobaan hidup yang Anda rasakan selama jadi Bupati Solok?
Oh… ada, cobaan hidup yang paling berat adalah ketika saya sempat “hilang” selama lima hari di hutan belantara ketika napak tilas perjuangan dari Lubuak Minturun (Kota Padang) hingga ke Paninggahan (Kabupaten Solok) tahun 1999. Nyasar di hutan ini saya anggap sebagai cobaan hidup karena bersama saya ada 116-124 orang lainnya. Mereka ada yang pelajar, mahasiswa, polisi, dan juga pejabat kabupaten.
Gamawan Fauzi, SH MM, (lahir di Solok, Sumatera Barat, 9 November 1957; umur 54 tahun) adalah Menteri Dalam Negeri Indonesia (Mendagri) sejak 22 Oktober 2009. Menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat sejak 15 Agustus 2005 hingga 22 Oktober 2009. Ia juga penerima Bung Hatta Award atas keberhasilannya memerangi korupsi pada saat menjadi bupati di Kabupaten Solok.
Pengalaman itu, tak lain saat dia raib di suatu hutan pada pertengahan Agustus 1998 lalu. Gamawan saat itu tidak sendirian. Dia menghilang bersama seluruh rombongan ekspedisi, yang sedang menjelajahi daerah pedalaman sebagai bagian dari program “pembebasan masyarakat terasing.”
Cerita dimulai ketika datang usulan masyarakat dari Nagari Paninggahan. Nagari ini terletak di pinggir sebuah danau yang elok: Danau Singkarak.
Bupati menyambut rombongan tersebut di rumah dinasnya pada suatu malam. Terjadilah perbincangan antara bupati dan masyarakatnya. Dari diskusi dan perbincangan itu, bupati dilapori bahwa selama ini, warga Paninggahan yang ingin ke kota Padang, terlalu jauh jaraknya. Mereka harus melewati jalan yang sudah ada. Jalan memang sudah bagus, lebar dan beraspal, namun bagi masyarakat yang ada di sana, jalan itu arahnya memutar. Karenanya, para pemuka masyarakat memberikan sebuah masukan pada bupati.
“Pak, kita sebenarnya bisa membuat sebuah jalan alternatif ke kota Padang.”
“Apa alternatifnya?”
“Kalau saja bapak bisa membangun jalan dari pinggiran danau Singkarak ini, lalu ke Padang, kita akan menghemat sekitar 30 kilometer.”
“Kalau begitu, itu dekat ya?”
Menurut warga, selain memperpendek jarak, ada hal lain yang bisa didapat. Kalau jalan terbuka, ada potensi bahan mentah semen di sana, dan jumlahnya lumayan besar. Selain itu, jika daerah tadi terbuka, terdapat beberapa potensi alam yang bisa dikembangkan. Warga yang menanami kebunnya dengan kopi, tanaman palawija dan lainnya, bisa dengan mudah mengangkut produksinya. Tentu saja, hal itu juga akan membuat pendapatan masyarakat semakin meningkat. Multi-efek dari pembangunan jalan ini jelas banyak.
Hal yang tak kalah penting, adanya penelusuran jejak perjuangan. Para perintis kemerdekaan, melakukan perjuangan bersenjata di daerah ini.
Masukan ini menarik perhatian Gamawan. Dan dia ingin membuktikannya. Segera dia memberikan kesempatan pada stafnya untuk menganalisa. Bupati mengirim beberapa orang staf ke sana. Sepulang dari sana, mereka mengadakan rapat dengan bupati untuk membicarakan hasil penelusurannya.
Rapat pun digelar, dihadiri bupati, staf pemerintahan dan tim survei.
“Bagus Pak,” kata salah seorang tim survai.
Bupati merasa perlu untuk melihatnya langsung. “Pak, hari mau tanggal 17 Agustus. Kalau nanti terjadi apa-apa, kan bisa repot juga,” salah seorang staf mencemaskan niat Gamawan.
“Bagaimana kalau para staf dulu yang ke sana,” kata yang lain.
Yang lain justru setuju kalau Gamawan langsung ke lokasi. “Pak, kami sudah melakukan survai dan sudah kami beri tanda-tanda, dan tidak akan tersesat.”
Rapat menghasilkan keputusan untuk melakukan napak tilas massal. Waktu dan tempat pemberangkatan pun ditentukan, 11 Agustus 1998. Napak tilas dimulai dari Nagari Paninggahan dan berakhir di Lubuk Minturun, Padang Pariaman. Jarak dari Paninggahan ke Lubuk Minturun, sekitar 46 km. Dari jarak yang diketahui, diperkirakan perjalanan itu menempuh waktu sekitar dua hari.
Pagi itu, Selasa, 11 Agustus 1998, berangkatlah rombongan dari pelataran kabupaten Solok. Jumlah rombongan ada 136 orang. Banyak warga yang mendampingi. Pelepasan rombongan dilakukan di kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), cabang Solok.
Dalam rombongan, terdapat para pejabat pembuat dan penentu keputusan yang ada di Kabupaten Solok. Mulai pejabat eselon II, dan kepala dinas. Mereka antara lain kepala Dinas Perhubungan, kepala Dinas Pekerjaan Umum, dan beberapa pejabat yang lain.
Para tetua adat melepas rombongan di Nagari Paninggahan, setelah sebelumnya diadakan upacara dan doa bersama untuk keselamatan seluruh rombongan.
Berunding di Tengah Hutan
Pada awal perjalanan, rombongan tidak menemui kendala. Mereka berjalan beriringan menapak lebat dan rimbunnya hutan. Tak terasa, waktu telah menjelang sore. Keadaan jalan dan hutan yang mereka lewati, mulai terasa gelap. Hutan semakin lebat. Cahaya matahari makin sulit menembus kegelapan hutan. Rombongan memutuskan untuk menginap pada salah satu punggung bukit.
Esoknya, Rabu, 12 Agustus 1998, rombongan melanjutkan lagi perjalanan. Hutan itu sungguh lebat dan rimbun, seolah belum terjamah tangan manusia. Mereka terus menyusuri jalanan. Seharian itu rombongan berjalan dan beriringan.
Persoalan mulai datang. Beberapa orang menginjak sarang tawon. Mereka kalang kabut dan terpencar. Beberapa orang tersengat. Insiden tak berlangsung lama. Mereka kembali menyatukan diri ke dalam kelompok-kelompoknya.
Persoalan yang lebih besar datang. Ternyata, tanda-tanda yang mereka buat sebelumnya sebagai penunjuk jalan, kini tidak nampak lagi. Pada sebuah punggung bukit , rombongan pun berhenti sejenak untuk mengatur siasat. Hasil dari kemufakatan, rombongan memutuskan untuk mengirim dua belas orang sebagai tim pembuka. Rombongan ini bertugas mencari tanda-tanda yang telah dibuat. Begitu melihat tanda itu, rombongan ini harus balik lagi sehingga seluruh rombongan dapat melanjutkan perjalanan.
Detik berganti menit. Menit berganti jam. Tak terasa, satu jam telah berlalu. Kedua belas orang yang bertugas mencari jejak, tak ada kabarnya. Mereka seolah hilang ditelan bumi.
Akhirnya, rombongan yang masih berjumlah 116 orang, kembali berunding. Beberapa orang yang dianggap mengerti dan mampu membaca kompas dan peta diajak berunding. Mereka harus menentukan langkah, ke arah mana jalan yang harus dilalui.
“Saya kan tak ahli baca kompas, Pak. Siapa yang ahli baca kompas, baca peta, bukan kompas yang otomatis itu, tapi peta hutan,” kata Gamawan.
Lalu, peta hutan dijabarkan dan arah pun ditelisik dengan kompas. Dari perundingan para pembaca arah ini, mereka mencapai sebuah kesepakatan, bahwa untuk mencapai kota Padang Pariaman, harus ke arah barat. Mereka menyampaikan hasil itu ke bupati.
Akhirnya, rombongan melanjutkan perjalanan ke arah barat, seperti yang telah disepakati.
Menjelang jam enam sore, jalan yang ada di hadapan mereka tidak nampak lagi. Tidak ada gambaran, mereka akan sampai di Padang Pariaman, seperti jadwal yang telah ditentukan.
Apa yang menghampar di hadapan mereka, sungguh menciutkan nyali, bagi yang tak terbiasa mengikuti kegiatan alam bebas. Bukit itu seolah tak ada putusnya. Sambung menyambung dan berbaris. Tak heran jika orang menyebutnya Bukit Barisan. Bukit itu memiliki jurang yang sangat dalam, dengan puncak menjulang seperti kerucut. Sanking dalamnya, sebuah batu yang dijatuhkan ke dasar jurang, tidak akan terdengar suaranya.
“Sudah jam enam, Pak,” kata Dusral, seorang anggota rombongan, pada Gamawan.
“Ah, cobalah kita tunggu seluruh anggota rombongan hadir dulu, dan tak boleh ada yang tertinggal,” jawab Gamawan.
Tepat pukul 19.00, semua rombongan sudah berkumpul. Mereka belum membuat rencana dan memberi kabar kepada masyarakat luas, tentang keadaan mereka.
“Jadi bagaimana rencananya, Pak?”
“Kita lanjutkan juga lah, tapi sekedar mencari tempat tidur.”
Gamawan sebenarnya cemas juga. Dia tak mau kecemasannya terlihat orang lain.
Kecewasan Gamawan lumrah. Bila dari 116 orang yang ikut rombongan ada yang kecelakaan satu orang saja, resikonya besar sekali untuk Gamawan. Di sinilah ketenangan dan pengendalian diri itu penting. Gamawan tetap memberikan komando dengan baik. Dia menyapu seluruh kecemasan dari parasnya.
Bagi Gamawan, pada situasi sulit itu, kepemimpinan seseorang seolah diuji dalam mengambil keputusan. Misalnya saja, ketika ada sebuah lembah menghampar di depan mereka. Lembah itu mereka lalui dengan cara berjalan memotong. Alasannya, kalau mereka memaksa untuk melintasinya, rombongan bisa berguguran ke lembah itu. Jalan alternatif adalah dengan melambung, meskipun untuk itu mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra.
Hal lain lagi, tatkala hari telah mulai sore, dan mereka sudah menumpuk di satu tempat, tentu saja mereka tak bisa menginap. Kondisi alamnya tidak memungkinkan. Gamawan memimpin mereka untuk turun ke bawah dan mencari air. Di tempat yang ada airnya itulah, mereka bisa menginap.
Mereka memperkirakan berada di ketinggian 2.200 meter. Udara dingin menusuk. Sementara, makanan yang mereka bawa telah mulai menipis. Hanya makanan sisa dan air yang tertinggal.
Malam itu rombongan berjalan lagi. Namun, yang mereka cari bukan lagi jalan yang benar, tapi sungai. Mereka berusaha mengikuti arus air untuk jalur pulang, sembari melepaskan dahaga dan tempat untuk bermalam. Mereka teringat satu wejangan di awal sebelum berangkat. Kalau tersesat di rimba, yang mereka cari adalah sungai. Sungai pasti mengalirkan airnya ke bawah. Di sepanjang aliran sungai itulah, biasanya ada pemukiman penduduk.
Dari 116 orang, cuma ada enam senter untuk penerangan. Seolah tak hilang akal, mereka menggunakan botol bekas minuman energi, sebagai tambahan penerangan. Caranya? Botol dari beling ukuran segenggaman orang dewasa itu mereka beri minyak tanah di dalamnya. Untungnya, mereka bawa minyak tanah. Mereka memberi sumbu dari kain yang dirobek. Jadilah lampu damar, atau lampu jongkok.
Malam kian gelap. Seolah tak jelas, mereka berjalan di atas bukit atau di jurang. Yang pasti, mereka berjalan sambil berpegangan tangan dengan posisi miring. Tangan yang satu memegang tangan orang yang di depan, dan tangan yang satu lagi dipegang orang yang di belakang. Mereka mencengkram erat tangan orang yang ada di belakang atau di depannya. Kuatir terjatuh atau diterkam harimau.
Rombongan berjalan merayap. Dengan langkah pelan dan teratur, mereka menuruni jalan. Berjalan paling depan, ada empat orang dari dinas kehutanan. Mereka inilah yang bertugas membuka jalan dengan parang yang dimiliki. Dengan tetap saling berpegangan tangan mereka mencari celah, untuk jalan yang bakal dilalui. Gamawan berada di baris keenam dari rombongan.
Selain merentangkan tangan saling mencengkram, rombongan juga menggunakan alat bantu sebisanya. Misalnya, jika ada rotan, maka rotan itu akan mereka ikatkan pada kayu yang ada di atas. Dengan cara demikian, rotan itu dapat mereka gunakan sebagai alat bantu. Perjalanan malam itu lambat sekali. Kondisi jalan yang gelap dan turunan curam, sangat menyulitkan perjalanan.
Akhirnya, mereka menemukan sungai. Saat itu, kondisi sudah larut malam. Ketika mencapai tepian sungai, jarum jam di tangan menunjuk pukul 23.30. Untuk sejenak mereka bisa bernapas lega. Walau kegalauan dan sesuatu tak menentu, memenuhi hati dan pikiran.
Hal pertama yang dilakukan di tepian sungai, tentu saja menghitung jumlah anggota rombongan. Setiap orang diminta untuk berhitung. Sesuai dengan barisannya. Terdengar teriakan. Satu, dua, tiga, empat……… seratus dua puluh empat. Nah, berarti jumlah anggota lengkap.
Meski sudah berada di tepian sungai, tempat itu bukanlah sebuah lahan datar atau tanah lapang. Daerah itu merupakan sebuah punggung bukit yang curam. Mereka menentukan keputusan. Menginap dan istirahat di sana. Spontan saja, tiap orang meraba tanah yang dipijak. Tangan mereka meraba-raba tanah, batu, pasir atau mencari batang pohon. Sekedar menyangkutkan badan di sana dan tidak tergelincir ke bawah. Yang pasti, seketemunya saja dan tidak di dalam air.
Lewat tengah malam, sekitar pukul 12.30, mereka mengirimkan pesan lewat Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI). Isinya, rombongan itu tersesat. Meski begitu, mereka berpesan, keluarga atau orang yang berada di luar, jangan panik dengan kondisi itu.
Malam itu mereka bermalam di bawah payung semesta. Yang ada hanya gelap. Sepi dan pekat. Rombongan tidak sepenuhnya tertidur. Mereka letih dan capai, sementara perut menahan lapar dan belum terisi. Hanya makanan kecil, seperti roti atau biskuit yang tersisa. Itu pun tidak cukup sebagai pengobat rasa lapar.
Keadaan psikologis mereka pun rapuh. Ini lantaran mereka
Oh… ada, cobaan hidup yang paling berat adalah ketika saya sempat “hilang” selama lima hari di hutan belantara ketika napak tilas perjuangan dari Lubuak Minturun (Kota Padang) hingga ke Paninggahan (Kabupaten Solok) tahun 1999. Nyasar di hutan ini saya anggap sebagai cobaan hidup karena bersama saya ada 116-124 orang lainnya. Mereka ada yang pelajar, mahasiswa, polisi, dan juga pejabat kabupaten.
Gamawan Fauzi, SH MM, (lahir di Solok, Sumatera Barat, 9 November 1957; umur 54 tahun) adalah Menteri Dalam Negeri Indonesia (Mendagri) sejak 22 Oktober 2009. Menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat sejak 15 Agustus 2005 hingga 22 Oktober 2009. Ia juga penerima Bung Hatta Award atas keberhasilannya memerangi korupsi pada saat menjadi bupati di Kabupaten Solok.
Pengalaman itu, tak lain saat dia raib di suatu hutan pada pertengahan Agustus 1998 lalu. Gamawan saat itu tidak sendirian. Dia menghilang bersama seluruh rombongan ekspedisi, yang sedang menjelajahi daerah pedalaman sebagai bagian dari program “pembebasan masyarakat terasing.”
Cerita dimulai ketika datang usulan masyarakat dari Nagari Paninggahan. Nagari ini terletak di pinggir sebuah danau yang elok: Danau Singkarak.
Bupati menyambut rombongan tersebut di rumah dinasnya pada suatu malam. Terjadilah perbincangan antara bupati dan masyarakatnya. Dari diskusi dan perbincangan itu, bupati dilapori bahwa selama ini, warga Paninggahan yang ingin ke kota Padang, terlalu jauh jaraknya. Mereka harus melewati jalan yang sudah ada. Jalan memang sudah bagus, lebar dan beraspal, namun bagi masyarakat yang ada di sana, jalan itu arahnya memutar. Karenanya, para pemuka masyarakat memberikan sebuah masukan pada bupati.
“Pak, kita sebenarnya bisa membuat sebuah jalan alternatif ke kota Padang.”
“Apa alternatifnya?”
“Kalau saja bapak bisa membangun jalan dari pinggiran danau Singkarak ini, lalu ke Padang, kita akan menghemat sekitar 30 kilometer.”
“Kalau begitu, itu dekat ya?”
Menurut warga, selain memperpendek jarak, ada hal lain yang bisa didapat. Kalau jalan terbuka, ada potensi bahan mentah semen di sana, dan jumlahnya lumayan besar. Selain itu, jika daerah tadi terbuka, terdapat beberapa potensi alam yang bisa dikembangkan. Warga yang menanami kebunnya dengan kopi, tanaman palawija dan lainnya, bisa dengan mudah mengangkut produksinya. Tentu saja, hal itu juga akan membuat pendapatan masyarakat semakin meningkat. Multi-efek dari pembangunan jalan ini jelas banyak.
Hal yang tak kalah penting, adanya penelusuran jejak perjuangan. Para perintis kemerdekaan, melakukan perjuangan bersenjata di daerah ini.
Masukan ini menarik perhatian Gamawan. Dan dia ingin membuktikannya. Segera dia memberikan kesempatan pada stafnya untuk menganalisa. Bupati mengirim beberapa orang staf ke sana. Sepulang dari sana, mereka mengadakan rapat dengan bupati untuk membicarakan hasil penelusurannya.
Rapat pun digelar, dihadiri bupati, staf pemerintahan dan tim survei.
“Bagus Pak,” kata salah seorang tim survai.
Bupati merasa perlu untuk melihatnya langsung. “Pak, hari mau tanggal 17 Agustus. Kalau nanti terjadi apa-apa, kan bisa repot juga,” salah seorang staf mencemaskan niat Gamawan.
“Bagaimana kalau para staf dulu yang ke sana,” kata yang lain.
Yang lain justru setuju kalau Gamawan langsung ke lokasi. “Pak, kami sudah melakukan survai dan sudah kami beri tanda-tanda, dan tidak akan tersesat.”
Rapat menghasilkan keputusan untuk melakukan napak tilas massal. Waktu dan tempat pemberangkatan pun ditentukan, 11 Agustus 1998. Napak tilas dimulai dari Nagari Paninggahan dan berakhir di Lubuk Minturun, Padang Pariaman. Jarak dari Paninggahan ke Lubuk Minturun, sekitar 46 km. Dari jarak yang diketahui, diperkirakan perjalanan itu menempuh waktu sekitar dua hari.
Pagi itu, Selasa, 11 Agustus 1998, berangkatlah rombongan dari pelataran kabupaten Solok. Jumlah rombongan ada 136 orang. Banyak warga yang mendampingi. Pelepasan rombongan dilakukan di kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), cabang Solok.
Dalam rombongan, terdapat para pejabat pembuat dan penentu keputusan yang ada di Kabupaten Solok. Mulai pejabat eselon II, dan kepala dinas. Mereka antara lain kepala Dinas Perhubungan, kepala Dinas Pekerjaan Umum, dan beberapa pejabat yang lain.
Para tetua adat melepas rombongan di Nagari Paninggahan, setelah sebelumnya diadakan upacara dan doa bersama untuk keselamatan seluruh rombongan.
Berunding di Tengah Hutan
Pada awal perjalanan, rombongan tidak menemui kendala. Mereka berjalan beriringan menapak lebat dan rimbunnya hutan. Tak terasa, waktu telah menjelang sore. Keadaan jalan dan hutan yang mereka lewati, mulai terasa gelap. Hutan semakin lebat. Cahaya matahari makin sulit menembus kegelapan hutan. Rombongan memutuskan untuk menginap pada salah satu punggung bukit.
Esoknya, Rabu, 12 Agustus 1998, rombongan melanjutkan lagi perjalanan. Hutan itu sungguh lebat dan rimbun, seolah belum terjamah tangan manusia. Mereka terus menyusuri jalanan. Seharian itu rombongan berjalan dan beriringan.
Persoalan mulai datang. Beberapa orang menginjak sarang tawon. Mereka kalang kabut dan terpencar. Beberapa orang tersengat. Insiden tak berlangsung lama. Mereka kembali menyatukan diri ke dalam kelompok-kelompoknya.
Persoalan yang lebih besar datang. Ternyata, tanda-tanda yang mereka buat sebelumnya sebagai penunjuk jalan, kini tidak nampak lagi. Pada sebuah punggung bukit , rombongan pun berhenti sejenak untuk mengatur siasat. Hasil dari kemufakatan, rombongan memutuskan untuk mengirim dua belas orang sebagai tim pembuka. Rombongan ini bertugas mencari tanda-tanda yang telah dibuat. Begitu melihat tanda itu, rombongan ini harus balik lagi sehingga seluruh rombongan dapat melanjutkan perjalanan.
Detik berganti menit. Menit berganti jam. Tak terasa, satu jam telah berlalu. Kedua belas orang yang bertugas mencari jejak, tak ada kabarnya. Mereka seolah hilang ditelan bumi.
Akhirnya, rombongan yang masih berjumlah 116 orang, kembali berunding. Beberapa orang yang dianggap mengerti dan mampu membaca kompas dan peta diajak berunding. Mereka harus menentukan langkah, ke arah mana jalan yang harus dilalui.
“Saya kan tak ahli baca kompas, Pak. Siapa yang ahli baca kompas, baca peta, bukan kompas yang otomatis itu, tapi peta hutan,” kata Gamawan.
Lalu, peta hutan dijabarkan dan arah pun ditelisik dengan kompas. Dari perundingan para pembaca arah ini, mereka mencapai sebuah kesepakatan, bahwa untuk mencapai kota Padang Pariaman, harus ke arah barat. Mereka menyampaikan hasil itu ke bupati.
Akhirnya, rombongan melanjutkan perjalanan ke arah barat, seperti yang telah disepakati.
Menjelang jam enam sore, jalan yang ada di hadapan mereka tidak nampak lagi. Tidak ada gambaran, mereka akan sampai di Padang Pariaman, seperti jadwal yang telah ditentukan.
Apa yang menghampar di hadapan mereka, sungguh menciutkan nyali, bagi yang tak terbiasa mengikuti kegiatan alam bebas. Bukit itu seolah tak ada putusnya. Sambung menyambung dan berbaris. Tak heran jika orang menyebutnya Bukit Barisan. Bukit itu memiliki jurang yang sangat dalam, dengan puncak menjulang seperti kerucut. Sanking dalamnya, sebuah batu yang dijatuhkan ke dasar jurang, tidak akan terdengar suaranya.
“Sudah jam enam, Pak,” kata Dusral, seorang anggota rombongan, pada Gamawan.
“Ah, cobalah kita tunggu seluruh anggota rombongan hadir dulu, dan tak boleh ada yang tertinggal,” jawab Gamawan.
Tepat pukul 19.00, semua rombongan sudah berkumpul. Mereka belum membuat rencana dan memberi kabar kepada masyarakat luas, tentang keadaan mereka.
“Jadi bagaimana rencananya, Pak?”
“Kita lanjutkan juga lah, tapi sekedar mencari tempat tidur.”
Gamawan sebenarnya cemas juga. Dia tak mau kecemasannya terlihat orang lain.
Kecewasan Gamawan lumrah. Bila dari 116 orang yang ikut rombongan ada yang kecelakaan satu orang saja, resikonya besar sekali untuk Gamawan. Di sinilah ketenangan dan pengendalian diri itu penting. Gamawan tetap memberikan komando dengan baik. Dia menyapu seluruh kecemasan dari parasnya.
Bagi Gamawan, pada situasi sulit itu, kepemimpinan seseorang seolah diuji dalam mengambil keputusan. Misalnya saja, ketika ada sebuah lembah menghampar di depan mereka. Lembah itu mereka lalui dengan cara berjalan memotong. Alasannya, kalau mereka memaksa untuk melintasinya, rombongan bisa berguguran ke lembah itu. Jalan alternatif adalah dengan melambung, meskipun untuk itu mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra.
Hal lain lagi, tatkala hari telah mulai sore, dan mereka sudah menumpuk di satu tempat, tentu saja mereka tak bisa menginap. Kondisi alamnya tidak memungkinkan. Gamawan memimpin mereka untuk turun ke bawah dan mencari air. Di tempat yang ada airnya itulah, mereka bisa menginap.
Mereka memperkirakan berada di ketinggian 2.200 meter. Udara dingin menusuk. Sementara, makanan yang mereka bawa telah mulai menipis. Hanya makanan sisa dan air yang tertinggal.
Malam itu rombongan berjalan lagi. Namun, yang mereka cari bukan lagi jalan yang benar, tapi sungai. Mereka berusaha mengikuti arus air untuk jalur pulang, sembari melepaskan dahaga dan tempat untuk bermalam. Mereka teringat satu wejangan di awal sebelum berangkat. Kalau tersesat di rimba, yang mereka cari adalah sungai. Sungai pasti mengalirkan airnya ke bawah. Di sepanjang aliran sungai itulah, biasanya ada pemukiman penduduk.
Dari 116 orang, cuma ada enam senter untuk penerangan. Seolah tak hilang akal, mereka menggunakan botol bekas minuman energi, sebagai tambahan penerangan. Caranya? Botol dari beling ukuran segenggaman orang dewasa itu mereka beri minyak tanah di dalamnya. Untungnya, mereka bawa minyak tanah. Mereka memberi sumbu dari kain yang dirobek. Jadilah lampu damar, atau lampu jongkok.
Malam kian gelap. Seolah tak jelas, mereka berjalan di atas bukit atau di jurang. Yang pasti, mereka berjalan sambil berpegangan tangan dengan posisi miring. Tangan yang satu memegang tangan orang yang di depan, dan tangan yang satu lagi dipegang orang yang di belakang. Mereka mencengkram erat tangan orang yang ada di belakang atau di depannya. Kuatir terjatuh atau diterkam harimau.
Rombongan berjalan merayap. Dengan langkah pelan dan teratur, mereka menuruni jalan. Berjalan paling depan, ada empat orang dari dinas kehutanan. Mereka inilah yang bertugas membuka jalan dengan parang yang dimiliki. Dengan tetap saling berpegangan tangan mereka mencari celah, untuk jalan yang bakal dilalui. Gamawan berada di baris keenam dari rombongan.
Selain merentangkan tangan saling mencengkram, rombongan juga menggunakan alat bantu sebisanya. Misalnya, jika ada rotan, maka rotan itu akan mereka ikatkan pada kayu yang ada di atas. Dengan cara demikian, rotan itu dapat mereka gunakan sebagai alat bantu. Perjalanan malam itu lambat sekali. Kondisi jalan yang gelap dan turunan curam, sangat menyulitkan perjalanan.
Akhirnya, mereka menemukan sungai. Saat itu, kondisi sudah larut malam. Ketika mencapai tepian sungai, jarum jam di tangan menunjuk pukul 23.30. Untuk sejenak mereka bisa bernapas lega. Walau kegalauan dan sesuatu tak menentu, memenuhi hati dan pikiran.
Hal pertama yang dilakukan di tepian sungai, tentu saja menghitung jumlah anggota rombongan. Setiap orang diminta untuk berhitung. Sesuai dengan barisannya. Terdengar teriakan. Satu, dua, tiga, empat……… seratus dua puluh empat. Nah, berarti jumlah anggota lengkap.
Meski sudah berada di tepian sungai, tempat itu bukanlah sebuah lahan datar atau tanah lapang. Daerah itu merupakan sebuah punggung bukit yang curam. Mereka menentukan keputusan. Menginap dan istirahat di sana. Spontan saja, tiap orang meraba tanah yang dipijak. Tangan mereka meraba-raba tanah, batu, pasir atau mencari batang pohon. Sekedar menyangkutkan badan di sana dan tidak tergelincir ke bawah. Yang pasti, seketemunya saja dan tidak di dalam air.
Lewat tengah malam, sekitar pukul 12.30, mereka mengirimkan pesan lewat Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI). Isinya, rombongan itu tersesat. Meski begitu, mereka berpesan, keluarga atau orang yang berada di luar, jangan panik dengan kondisi itu.
Malam itu mereka bermalam di bawah payung semesta. Yang ada hanya gelap. Sepi dan pekat. Rombongan tidak sepenuhnya tertidur. Mereka letih dan capai, sementara perut menahan lapar dan belum terisi. Hanya makanan kecil, seperti roti atau biskuit yang tersisa. Itu pun tidak cukup sebagai pengobat rasa lapar.
Keadaan psikologis mereka pun rapuh. Ini lantaran mereka
0 comments
Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^